Selama ini orang menganggap folklore adalah cerita rakyat. Pendapat itu tidak sepenuhnya tepatkarena folklore sebenarnya jauh lebih luas jangkauannya. Menurut James Danandjaya, folklore adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun dalam bentuk lisan atau contoh disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Jadi folklore itu tidak hanya terbatas pada suku tertentu. Ada folklore mahasiswa, folklore dokter, folklore polisi, dll.
Ciri-ciri folklore adalah :
- Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yakni melalui tutur kata dari mulut ke mulut atau menggunakan alat bantu yang diturunkan dari satu generasi ke generasi sesudahnya.
- Bersifat tradisional. Disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu cukup lama (minimal dua generasi).
- Sebuah folklore mempunyai variasi berbeda. Hal ini disebabkan penyebarannya bersifat dari mulut ke mulut sehingga ada perubahan, namun inti folklore tersebut tetaplah sama.
- Bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lain lagi.
- Biasanya punya bentuk berumus atau berpola. Biasanya cerita rakya menggunakan kata ’sahibul hikayat’ untuk membuka cerita.
- Memiliki kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Misalnya sebagai alat penanam nilai moral, dll.
- Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.
- Milik bersama suatu kolektif tertentu.
- Biasanya bersifat polos dan lugu, sehingga sering kelihatan kasar atau terlalu spontan.
Contoh yang akan dipakai adalah folklore dari keluarga pihak mama.Perlu gue ingatkan, gue dapat cerita ini udah lama banget, jadi sedikit banyak ada yang lupa.
Mama adalah orang Batak bermarga Simanjuntak. Suku Batak sebenarnya kaya akan folklore, karena setiap marga punya folklore tersendiri.
Ciri khas Simanjuntak yang jarang ada dalam marga Batak lain adalah nomor yang menandakan generasi Simanjuntak tersebut. Dengan nomor ini, dapat dilacak asal-usul seseorang sampai generasi pertama sekaligus memudahkan cara memanggil Simanjuntak lain.Sebenarnya nomor ini sering menimbulkan kejadian kocak. Di kampus gue ada 3 orang Simanjuntak, 2 di antaranya adalah junior gue. Setelah ditanya, ternyata mereka nomor 15 dan 13. Mama sendiri nomor 16. Begitu tahu nomor mereka, gue langsung ngakak karena artinya 2 junior gue itu harus gue panggil opung alias nenek. XDDDD Dan kalau lagi kumat jahil, gue dengan cueknya memanggil mereka “OPUNG” kencang – kencang di kampus. Kalau diurut-urut lagi ke atas, Simanjuntak itu masih bersaudara dengan marga Siahaan dan Lumbangaol. Menurut cerita teman, Siahaan adalah kakak sedangkan Lumbangaol adalah adik Simanjuntak.
Simanjuntak terbagi menjadi 4, gue lupa pembagian ini berdasarkan istri Simanjuntak generasi pertama atau anak-anaknya, yang pasti mama dari Sitombuk. Ini baru pembagian yang biasa, karena dalam Simanjuntak ada lagi pembagian yang lebih dalam, yang menurut gue malah memecah keluarga Simanjuntak.
Jadi zaman dahulu keluarga Simanjuntak punya sapi. Supaya adil, sapi itu dibagi 2. Ada yang mendapat bagian depan sapi (gue lupa sebutannya apa) sedang yang lain mendapat bagian belakang. Yang mendapat bagian belakang ini disebut parhorbo Pudi (pudi = belakang). Masalah muncul di sini karena yang mendapat keuntungan sudah pasti Pudi karena bagian belakang sapi itu kan menghasilkan susu, sedang bagian depan gak dapat apa – apa.
Sejak saat itu terjadi perpecahan yang subtle banget. Menurut kepercayaan, Simanjuntak depan dan belakang sulit untuk bersatu, kalau dipaksa pasti terjadi sesuatu. Pernah ada sekelompok Simanjuntak mengajak Simanjuntak lain untuk naik mobil bareng mereka. Anehnya mobil itu mogok, padahal sebelumnya lancar-lancar saja. Salah satu Simanjuntak sadar apa yang terjadi ngomong kalau salah satu dari mereka pasti ada yang “beda”. Benar saja, begitu Simanjuntak yang tadi diajak bareng itu turun dari mobil, mobil itu bisa jalan lagi. Versi lain dari cerita ini adalah kejadian itu terjadi di angkot. Inti ceritanya sih sama, yaitu Simanjuntak depan dan belakang gak bisa bersama. Katanya dulu di kampung pernah ada upacara perdamaian antara Simanjuntak depan dan belakang. Tapi pada hari upacara, hujan turun deras dan ular pada keluar dari sarangnya.
Karena itulah, setiap Simanjuntak bertemu Simanjuntak lainnya, hal pertama yang ditanya adalah “Depan atau belakang”. Sebenarnya ada cara untuk tahu Simanjuntak yang kita temui itu depan atau belakang, tapi sebaiknya jangan ditulis di sini karena gak enak, lagipula ngapain juga mempermasalahkan kejadian yang terjadi ratusan tahun lalu. Bagi gue, depan atau belakang sama saja karena kan lahir dari rahim orang yang sama ratusan tahun lalu.
Keluarga ibu (dalam hal ini opung gue beserta anak-anaknya) sudah gak gitu ketat memegang adat. Jadi jangan harap gue, saudara-saudara, serta para ortu bisa bahasa batak.Kita gak dekat dengan adik-adik opung karena mereka masih kuat memegang adat. Kita dibesarkan dalam zaman modern, tapi somehow mama masih membekali gue dengan pengetahuan sejarah keluarga. Hal yang amat gue syukuri karena gue sendiri tertarik dengan sejarah dan kebudayaan.
Itu sekelumit kisah folklore keluarga gue. Kalau ada yang punya cerita folklore keluarga kalian, silahkan berbagi cerita di sini atau
Cara mbedain SImanjuntak depan sama belakang bagaimana ya?
By: Wahyu Wijanarko on September 20, 2008
at 11:20 am
Wahyu >> Sorry baru reply. Sampai saat ini sih gue gak tau cara untuk bedain Simanjuntak depan dan belakang. ^^;;;
By: Ryuu Nagareboshi on October 22, 2008
at 6:25 pm
thankyou! artikelnya membantu banget buat besok ujian
By: bina on August 17, 2009
at 6:37 pm
hu,,,
ha,,,
hi,,,,,,,
By: yazien radclift on September 30, 2009
at 10:29 pm
wah bisa kasih contoh folklore lain dengan bahasa yang lebih resmi gak??/?
By: paul on October 8, 2009
at 2:30 pm